Sekarang
ya Yesus, inilah aku:
Aku adalah dan akan selalu milikMu. Sejak pagi sampai
sore hingga malam,
pikiranku akan beristirahat sesering ke dalam hatiMu yang
mahasuci.
Saya mau berbuat dan mempersembahkansemuanya bagi kebaikan umat
manusia, dengan meninggalkan diri
sendiri sepenuhnya, sebagai jiwa yang
keluar dari tubuh, dalam tanganMu yang
berbelaskasih…
aku mempersembahkan semuanya, saya adalah korbanMu,
inilah aku
Yesus, aku telah mati, mati, mati! Yesus! Yesus! Yesus! Kekasih,
Kekasih,
lembut, kuat, kekal !
" Jiwa yang terikat erat kepada Yesus - Ostia tidak pernah mengatakan cukuplah.
Dia mendengarkan Yesus yang berbicara kepadanya dalam setiap misterinya, dalam korbannya yang manis: "Jadilah suci seperti aku " (Catatan 4, hlm. 25)
"Siapa pun yang mencintai, tahu
bagaimana mengorbankan segalanya
dan melakukan pekerjaan luar biasa
demi Tuhan: tidak ada yang mengecewakannya dan tidak ada yang
menghentikannya dari melakukan apa yang Tuhan menghendaki darinya"
"Saya tidak tahan tiga menit tanpa memikirkan Allah".
“Sikap yang dituntut dari jiwa-jiwa adalah sikap persembahan abadi akan
Ekaristi
yang adalah perjalanan istimewa bagi Kristus